Lpkrinews.id, Palu, 18 Juni 2026 – Riuh rendah obrolan pengunjung di Pusat Kuliner Gunung Bosa, Kota Palu, sore itu berpadu hangat dengan aroma segar buah-buahan.
Di salah satu sudut yang rapi, Muhammad Syarifuddin (42) tampak gesit melayani pelanggan yang mengantre di depan gerai kontainer birunya yang bersih.
Tangannya begitu terampil menyendok es campur dan es buah, menyajikan kesegaran di tengah udara Kota Palu yang terik.
Namun, di balik senyum ramah dan ketenangan Syarifuddin hari ini, tersimpan lembaran kisah perjuangan yang penuh liku, ketidakpastian, hingga titik balik yang mengubah jalan hidup keluarganya.
Bagi Syarifuddin, setiap hari adalah medan laga demi menyambung hidup dan membiayai masa depan anak-anaknya.
Bertahun-tahun ia merintis usaha kecil ini dengan modal ketekunan. Namun, ujian berat datang menghampiri ketika lahan tempatnya menaruh gerobak kayu lamanya diambil kembali oleh sang pemilik asli.
Kehilangan tempat berpijak seketika memadamkan separuh asanya. Bayang-bayang kehilangan mata pencaharian dan ketidakmampuan menafkahi keluarga sempat menyelimuti hari-harinya yang penuh kecemasan.
Di tengah badai ketidakpastian itulah, secercah cahaya hadir.
PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palu hadir mengulurkan tangan lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Bukan sekadar bantuan materi sesaat, PLN memberikan sebuah paket kemandirian yang komprehensif: sebuah gerai box container yang kokoh dan permanen, penyambungan listrik gratis, fasilitas meja-kursi yang layak, hingga satu unit kompor induksi modern untuk mendukung aktivitas usahanya.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PLN UP3 Palu. Sebelum bantuan ini datang, saya sempat kebingungan dan takut tidak bisa menghidupi keluarga lagi karena diusir dari lahan sebelumnya. Kini, dengan gerai kontainer yang layak dan listrik yang memadai, usaha saya justru jauh lebih berkembang. Pelanggan semakin ramai karena tempatnya bersih dan nyaman, omzet saya pun meningkat drastis,” ungkap Syarifuddin dengan mata berkaca-kaca menahan haru.
Kehadiran listrik andal dan kompor induksi di gerai barunya memberikan efisiensi yang luar biasa bagi Syarifuddin.
Selain mempercepat proses persiapan dagangannya, penggunaan kompor induksi memperkenalkan cara kerja yang lebih praktis, aman, ekonomis, serta ramah lingkungan. Pelanggan yang datang pun merasa lebih nyaman karena suasana gerai yang bersih tanpa polusi asap.
Keberhasilan Syarifuddin menjadi salah satu potret nyata dari misi besar PLN untuk tidak sekadar menerangi ruang, melainkan juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara berkelanjutan dari sektor akar rumput.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo, Usman Bangun menegaskan bahwa komitmen perusahaan melampaui urusan bisnis semata. PLN bertekad menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat.
“PLN berkomitmen penuh agar kehadiran energi listrik tidak hanya menjadi penerang, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya bagi para pelaku UMKM. Melalui program TJSL ini, kami ingin memastikan bahwa usaha mikro seperti yang dijalankan oleh Pak Syarifuddin dapat naik kelas dari yang sebelumnya serba terbatas dan penuh ketidakpastian, kini menjadi mandiri, lebih produktif, dan mapan secara ekonomi dengan memanfaatkan electrifying lifestyle yang ramah lingkungan,” ungkap Usman.
Kisah sukses Syarifuddin menegaskan kembali bahwa program TJSL PLN adalah bentuk investasi sosial yang menyentuh esensi kemanusiaan.
Dengan memberikan kepastian tempat usaha dan modernisasi peralatan, PLN telah membantu menyalakan kembali harapan yang sempat padam, mendorong kemandirian ekonomi, dan menciptakan senyum kesejahteraan yang nyata bagi keluarga para pelaku usaha kecil di seluruh pelosok negeri.






